Agar tidak Bid’ah, Ibadah adalah perkara tauqifiyah

March 14, 2008 at 3:32 am 2 comments

HR. Bukhari (no. 247) dan Muslim (no. 2710) :

Baraa’ bin Azib berkata, “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam pernah berkata kepadaku,

Apabila engkau mendatangi tempat tidurmu, maka berwudhu’lah seperti wudhu’mu untuk shalat. Kemudian berbaringlah ke sisi kanan serta bacalah doa:

‘Ya Allah, aku berserah diri kepada-Mu, aku serahkan segala urusanku kepada-Mu, aku sandarkan punggungku kepada-Mu, karena mengharap dan takut kepada-Mu. Tidak ada tempat bersandar dan tempat menyelamatkan kecuali kepada-Mu. Ya, Allah aku beriman kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan, dan aku beriman kepada Nabi-Mu yang telah Engkau utus.’

Maka jika engkau meninggal pada malam harinya, sungguh engkau meninggal dalam keadaan fitrah dan jadikanlah do’a tersebut akhir yang engkau ucapkan.

Aku mencoba untuk mengingat-ingatnya kembali dan aku katakan:

“… Rasul-Mu yang telah Engkau utus.”

Nabi berkata, ‘Salah tapi katakanlah dan Nabi-Mu yang telah Engkau utus.”

***

Penjelasan singkat:

  1. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Hikmah yang paling tepat mengapa Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menyalahkan kata ‘rasul’ sebagai ganti dari lafazh ‘nabi’ adalah bahwa lafazh-lafazh dzikir itu tauqifiyyah. Ada kekhususan yang tidak boleh dengan kias. Wajib untuk menjaga lafazh yang syar’i.
    (Fat-hul Baari [XI/114])

  2. Imam al-Albani rahimahullah berkata, “Di dalam hadits ini terdapat peringatan yang sangat tegas bahwa wirid-wirid dan dzikir itu tauqifiyyah. Tidak boleh dirubah, baik dengan tambahan, pengurangan, atau hanya dengan merubah lafazh yang tidak merubah arti. Karena lafazh ‘rasul’ lebih umum dari ‘nabi’, tapi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam tetap membetulkannya.”
    (Shahih at-Targhiib wat tarhiib [I/388])

Beberapa Bid’ah

  • Penambahan kata ‘sayyidina’ pada saat tasyahhud dalam shalat, yaitu Allahumma shalli aala sayyidina Muhammad. Perkara ini jelas terlarang karena dalam lafazh hadits tentang shalawat ketika tasyahud tidak ada tambahan lafazh ‘sayyidina’.

  • Berdzikir dengan tidak ada tuntunannya, seperti lafazh Allah, Allah atau dengan lafazh Hu, Hu.

  • Bertasbih dengan menggunakan biji-bijian tasbih atau dengan kerikil.

  • Mengucapkan alhamdulillah setelah sendawa

  • Mengucap ta’awwudz setelah menguap.

  • Berdo’a dan berdzikir bersama-sama setelah shalat fardhu.

  • Bersujud setiap menyabut Nama Allah.

  • Melafalkan niat ketika memulai wudhu’, shalat, puasa padahal niat cukup dalam hati saja.

  • Seputar ibadah haji:

    • Berdoa menghadap gunung Arafah dan mendakinya dengan niat beribadah.

    • Mencuci kerikil sebelum dipakai untuk melempar jumrah.

    • Berziarah mengunjungi beberapa peninggalan, seperti Gua Hira.

    • Meyakini bahwa pakaian putih lebih utama bagi wanita ketika ihram.

  • Seputar jenazah:

    • Mengundang beberapa qori’ ketika ta’ziyah (berbelasungkawa)

    • Mengadakan pesta untuk para pelayat.

    • Mengkhususkan pakaian berwarna hitam.

  • Membuat perayaan-perayaan baru yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam, seperti:

    • Perayaan Isra’ Mi’raj, perayaan ini seperti perayaan Paskah, Kenaikan Isa al-Masih oleh Nashrani.

    • Perayaan Nuzul Qur’an

    • Perayaan tahun baru Islam 1 Muharram yang meniru perayaan tahun baru masehi oleh Nashrani.

    • Perayaan Maulid Nabi, seperti perayaan Natal bagi Nashrani.

 

 

Itu hanya beberapa perilaku-perilaku bid’ah yang sudah biasa dilakukan oleh beberapa Ummat Islam, tanpa disadari. Masih banyak bid’ah-bid’ah lainnya yang tidak dicantumkan di sini. Ada baiknya, teman-teman langsung merujuk / membaca buku-buku yang berkaitan dengan bid’ah-bid’ah ini, diantaranya:

  1. Ensiklopedi Bid’ah, Hammad bin Abdullah al-Mathar, Darul Haq, Jakarta

  2. Kumpulan Tanya-Jawab Bid’ah dalam Ibadah, Darul Falah, Jakarta

  3. Buku Saku: Sifat Dzikir Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam, Abu ‘Abdillah bin Luqman al-Atsari, Media Tarbiyah, Bogor

  4. Meneropong Dosa-dosa Tersembunyi, Salih bin Abdul Aziz bin Muhammad Aalu asy-Syaikh, Pustaka at-Tibyan

  5. Bid’ah Tanpa Sadar, Pustaka at-Tibyan

Entry filed under: Aqidah, Fiqh, Syarah. Tags: .

E-Book: Kesempurnaan Islam dan Bahaya Bid’ah E-book: Tauhid, Urgensi dan Manfaatnya

2 Comments Add your own

  • 1. Abu Aqil As-Salafy  |  March 29, 2008 at 1:36 am

    Assalamu’alaikum.
    Sangat bermanfaat artikelnya.
    Barakallohu fiik

    komentar bunga:
    wa’alaykumsalam warrahmatullah.
    wa fiika baarakallah

    Reply
  • 2. nartono  |  April 11, 2008 at 2:55 pm

    sebenarnya tidak semua yang menyerupai orang kafir adalah bidah. dengan konsep adopsi dan konsep adaptasi hal tersebut tidak akan menjadi masalah. misalkan saja bank syariah, darimana sih asal muasal bank syariah? sudah pasti mengadaptasi dan mengadopsi dari bank2 kafir. apakah itu berarti bidah? ohm belum tentu. tentunya dengan menghilangkan bagian2 yg diharamkan dan mengedepankan hal2 yg disunnahkan.

    tidak benar semua yg dari org kafir adalah bid’ah. bagimana dg hadits tsb? makanya janganlah mengartikan hadits secara tekstual. contohnya saja hadits yg mengatakan bahwa orang yg sedikit jumlahnya berada diatas kebenaran. apakah memang demikian? oh.. belum tentu….

    Komentar bunga:
    Penjelasan tentang bid’ah, menurut saya sudah cukup lengkap. Sedangkan tentang meniru-niru kaum kafir, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam sudah melarangnya, agar kita tidak meniru-meniru mereka. Dan mereka yang meniru-niru kaum kafir dapat dimasukkan dalam golongan mereka. Berbeda hukumnya dengan bid’ah. Namun, ada kalanya menjadi bid’ah bila perbuatan-perbuatan itu disebutkan pula sebagai ibadah. Jelas, tak ada hukum yang mendasarinya. Mengikut budaya mereka saja sudah salah, bagaimana pula jika budaya atau perbuatan mereka itu dikatakan sebagai ibadah?

    Apakah bank termasuk ibadah? Bukan kan … Tetapi, hukum2 dalam menjalaninya tidak boleh melanggar hukum Islam. Tentang bank syariah. Apakah antum sudah mempelajari, mendalami, bahkan mengetahui syarat2 perjanjian di dalamnya, seperti perjanjian pinjaman? Apakah menurut antum sudah Islami? Sudah banyak ulama yang membahas ini. Lebih baik antum langsung membaca ulasannya…

    Semoga kita selalu diberi kemudahan oleh Allah untum memahami Ajaran Islam.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blog-ku Lainnya

Designed by Rini Aisyah

Designed by Rini Aisyah

Designed by Rini Aisyah

Statistik Blog

  • 133,865 hits

%d bloggers like this: