Cara Menghadapi Celaan

July 17, 2007 at 1:27 am 1 comment

57676_wallpaper280.jpgAmar ma’ruf nahi mungkar merupakan bagian dari saling menasehati di antara kaum muslimin. Saling menasehati dengan menggunakan bahasa yang baik dan lemah lembut. Namun ada pula manusia bertempramen kuat sehingga kata-kata yang keluar darinya bernada tinggi, kasar, ataupun mencela. Atau bahkan memfitnah.

Demikian pula, kita harus melihat orang yang mencela dan memfitnah kita. Apabila ia benar dan memang untuk menasehati kita maka kita tidak perlu marah. Karena dia telah menunjukkan aib kita dan mengingkatkan kita dari kesalahan-kesalahan yang kita perbuat. Seandainya itu berbohong kepada kita dan mengada-ada terhadap kesalahan tersebut dan mencelanya, maka kita harus memikirkan tiga perkara:

1. Jika kita bersih dari kesalahan itu, maka kita tidak lepas dari aib atau kesalahan yang lain. Karena sesungguhnya manusia banyak berbuat salah dan banyak sekali aib kita yang Allah tutupi. Ingatlah nikmat Allah, karena si pencela tidak mengetahui aib yang lain dan tolaklah dengan cara yang baik.

2. Sesungguhnya membuat-buat berita untuk mencela kita dan memfitnah, semua ini adalah penghapus dosa kita, jika kita sabar dan mengharap pahala dari Allah.

3. Orang yang mencela dan memfitnah kita akan mendapat kemurkaan dari Allah .

Allah berfirman,
“Dan barangsiapa yang mengerjakan kesalahan atau dosa, kemudian dituduhkannya kepada orang yang tidak bersalah, maka sesungguhnya ia telah berbuat suatu kebohongan dan dosa yang nyata.” [QS an-Nisaa’ : 112]

Kita harus berusaha untuk memaafkannya karena Allah Ta’ala cinta kepada orang-orang yang suka memaafkan. Seorang muslim harus ingat bahwa tidak ada artinya pujian manusia bila hal itu menimbulkan kemurkaan Allah. Pujian mereka tidak pula membuat kaya dan berumur panjang. Begitu pula celaan mereka ketika kita meninggalkan sesuatu. Celaan mereka tidak membuat kita berada dalam bahaya dan tidak pula memendekkan umur kita serta tidak menangguhkan rezeki. Semua manusia adalah lemah, tidak berkuasa terhadap hidup dan matinya serta tempat kembalinya.

Jika ia menyadari hal itu, tentu dia akan melepaskan kesenangannya pada riya’. Lalu menghadap Allah dengan hatinya. Sesungguhnya orang-orang yang berakal tidak menyukai apa-apa yang berbahaya bagi dirinya dan yang sedikit manfaatnya.

[sumber: As-Sunnah 11/IX/1427H/2006M]

Entry filed under: Tazkiyatun Nafs. Tags: .

Ummat Islam dan Pemimpinnya (4/4) Kisah Abu Sofyan

1 Comment Add your own

  • 1. fatoer  |  December 3, 2007 at 9:51 am

    Gimana kalau seandainya dia marah besar, dan cara apakah untuk membuat dia merasa senang lagi dan memaafkan ku

    rini jawab:
    minta maap padanya. Seorang muslim emang harus mudah memaapkan. Berbuat baik padanya… ^_& Moga deh dia mau memaapkan.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blog-ku Lainnya

Designed by Rini Aisyah

Designed by Rini Aisyah

Designed by Rini Aisyah

Statistik Blog

  • 133,865 hits

%d bloggers like this: