Ummat Islam dan Pemimpinnya (2/4)

June 21, 2007 at 11:50 pm Leave a comment

2. Menghormati dan memuliakannya serta tidak menghinakannya

Dari Abu Bakrah, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa memuliakan sulthan Allah (penguasa) di dunia, maka Allah akan memuliakannya pada Hari Kiamat. Dan barangsiapa yang menghinakan sulthan Allah di dunia, maka Allah akan menghinakannya pada Hari Kiamat.” [HR Ahmad: Musnad (5/42); At Tirmidzi]

Syaikh Al Utsaimin berpendapat, “Alangkah indahnya pemahaman manhaj Salafush Shalih (metoda yang dilakukan oleh generasi Islam shalih pada masa yang lalu) dalam bermu’amalah dengan penguasa. Yaitu tidak menjadikan kesalahan penguasa sebagai jalan membangkitkan amarah manusia dan sampai menjauhkan hati mereka dari para wali amr (pemimpin). Sebab, ini adalah kerusakan dan salah satu yang menyebabkan terjadinya fitnah diantara manusia. Sebagaimana memenuhi hati (dengan kebencian) terhadap wali amir (penguasa), (akan) mengakibatkan kejelekan, fitnah, dan kekacauan. Demikian juga memenuhi hati (dengan kebencian) terhadap ulama, (akan) mengakibatkan pelecehan kedudukan ulama dan setelah itu melecehkan ketinggian syari’at yang mereka emban. Jika seseorang berusaha merendahkan kewibawaan ulama dan penguasa (wali amir), maka lenyaplah syariat dan keamanan. Hal ini (bisa) terjadi karena bila ulama berbicara maka masnusia tidak mempercayai ucapan mereka. Dan jika penguasa berbicara, mereka melanggarnya, lalu terjadilah keburukan dan kerusakan.” [Mu’amalatul Hukkum hal 32-33 karya Dr. Abdulaziz bin Ibrahim al Askar]

Masing-masing pihak yang (merasa) telah dizholimi kemudian menuntut haknya secara terbuka, terang-terangan, dan kasar, umumnya bukan kebaikan yang didapati. Malahan hal ini semakin memperuncing keadaan. Sikap yang terbaik adalah memberinya nasihat yang sepatutnya. Seorang pemimpin yang merasa kedudukannya mulai terancam, dapat saja dia dan para pembantunya melakukan hal-hal yang keras untuk mempertahankan kedudukannya itu. Balik lagi, masyarakatlah yang menjadi menderita. Kebaikan juga tidak diperoleh.

Barangsiapa yang tidak memiliki kemampuan untuk menasehati pemimpin yang zhalim, maka sebaiknya berdiam diri dan bersabar, sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang mendapatkan dari pemimpin(nya) sesuatu yang tidak menyenangkan, maka hendaklah bersabar. (Karena) sesungguhnya, barangsiapa yang keluar dari pemimpin, maka meninggal dalam keadaan jahiliyah.” [HR Imam Bukhari]

Lalu bagaimana sikap seorang muslim terhadap pemimpin yang zhalim itu? Hal ini telah dibahas oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, dimana beliau bersabda, “Barangsiapa melihat sebuah perkara yang membuat ia benci pada pemimpinnya, maka hendaknya ia bersabar dan janganlah ia membangkang kepada pemimpinnya. Sebab, barangsiapa melepaskan diri dari jama’ah, lalu ia mati maka ia mati secara jahiliyah.” [HR Bukhari dan Muslim]

Di sini, beliau menekankan makna pentingnya arti seorang pemimpin. Dengan pemimpin, kehidupan bermasyarakat dapat terpenuhi. Tidak bagi sekelompok manusia tanpa pemimpin. Kekacauanlah yang terjadi bahkan perang saudara dapat meletus.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya oleh seorang sahabat, manakala beliau menyebutkan bahwa akan ada para penguasa yang kalian lihat keburukan dan kemungkaran pada mereka; mereka (para sahabat) bertanya, “Apa yang anda perintahkan kepada kami?” Beliau bersabda, “Tunaikanlah kepada mereka (para penguasa) hak-hak mereka dan mintalah kepada Allah hak-hak kalian.” pHR Bukhari, Muslim, dari hadits Ibnu Mas’ud]

Sesungguhnya Allah Maha Penguasa. Mudah bagi-Nya untuk membulak-balikkan keadaan di bumi-Nya ini. Maka dari itu, jika menasehatinya tidak dapat terpenuhi, pada Allah-lah kita serahkan sepenuhnya agar selanjutnya memberikan seorang pemimpin yang terbaik.

Lalu apakah mendiamkan kemungkaran-kemungkaran itu berarti kita ridho terhadap perbuatannya? Tidaklah begitu. Diam bukan berarti ridho terhadapnya melainkan diam adalah untuk kebaikan bersama. Imam Nawawi berkata, “Barangsiapa yang mendiamkan kemungkaran seorang pemimpin, tidaklah dia berdosa kecuali (jika) dia menunjukkan sikap rela, setuju atau mengikuti kemungkaran itu.”

Abdullah Ibnu Abbas berkata, “Pemimpin adalah ujian bagi kalian. Apabila mereka bersikap adil, maka dia mendapatkan pahala dan kamu harus bersyukur. Dan apabila dia zholim, maka dia mendapatkan siksa dan kamu harus bersabar.”

Rujukan:
– Ushul Sunnah
– As Sunnah 02/VII/1424H/2004M

[bersambung, insyallah]
bagian 1
bagian 2
bagian 3
bagian 4

Entry filed under: Aqidah. Tags: .

Ummat Islam dan Pemimpinnya (1/4) Ummat Islam dan Pemimpinnya (3/4)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blog-ku Lainnya

Designed by Rini Aisyah

Designed by Rini Aisyah

Designed by Rini Aisyah

Statistik Blog

  • 133,865 hits

%d bloggers like this: