Ummat Islam dan Pemimpinnya (1/4)

June 16, 2007 at 7:23 am 4 comments

Islam merupakan agama dari Allah yang mengatur seluruh aspek kehidupan, baik pribadi maupun masyarakat, lahir maupun bathin. untuk kepentingan di dunia dan akhirat. Maka sistem politik Islam, khususnya tentang kepemimpinan juga merupakan amanat dari Allah, yaitu untuk melaksananakan aturan, undang-undang, dan syariat Islam.

Jadi, kepempinan dalam Islam merupakan bentuk aktifitas politik yang bertujuan untuk menegakkan aturan Allah di muka bumi. Oleh karena itu, pemimpin yang dipilih semata-mata hanya bertugas untuk menegakkan syariat dan menerapkan hukum Allah sehingga negara dan rakyat meraih kedaimaian, penguasa dan rakyat memperoleh hak-haknya secara adil serta kehidupan berbangsa dan bernegara dalam kondisi yang tenteram dan makmur.

Betapa indahnya jika hal tersebut dapat terwujud. Kenyataannya di zaman sekarang ini, hubungan ini tidak terlihat sama sekali. Jika kedua belah pihak (penguasa dan rakyat) sama-sama mengetahui kewajiban dan haknya (menurut Islam), tentu hal indah itu dapat terwujud.

“Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul(Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-baner beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” [QS an Nisaa’ : 59]

Siapa sebenarnya pemimpin muslim itu?

Imam Ahmad berkata, “Wajib mendengar penguasa muslimin, baik yang baik maupun yang tidak baik. Manusia sepakat mengangkatnya. Mayoritas manusia mengkangkatnya atau ia berkuasa dengan / melalui pedangnya. Ia disebut amirul mukminin (presiden, raja, perdana mentri, dll), maka wajib untuk mendengarnya.”

Keta’atan rakyat kepada pemimpinnya berupa pemenuhan kewajiban rakyat atas pemimpinnya yang merupakan hak pemimpin (pemerintah), yaitu:

1. Ikhlas dalam menasihati dan mendoakannya

Manusia tercipta dengan segala kekurangannya. Setiap manusia mempunyai kesalahan, terlebih para pemimpin. Mereka yang berada di puncak kepemimpinan memiliki godaan yang cukup besar, terlebih saat ini. Untuk itulah, setiap manusia (rakyat) harus memberikan nasihat bila melihat kekurangan dan kesalahan itu.

Dari Tamim Ad Daari, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Agama adalah nasihat.” Kami bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, pemimpin, dan umumnya kaum muslimin.” [HR Muslim]

Beliau juga bersabda, “Sesungguhnya Allah meridhoi tiga perkara pada kalian (yaitu), menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya; berpegang teguh kepada tali Allah dan tidak terpecah-pecah; dan menasihati orang yang Allah menjadikan (sebagai) penguasa atas kalian.” [HR Imam Muslim]

Menasihati bukanlah perkara gampang. Menasihati dengan cara dan kondisi yang tidak tepat dapat membawa masalah semakin runyam. Menasihati memiliki aturan yang harus dipenuhi.

Imam Fudhail bin Iyadh berkata, “Orang mukmin menasihati dengan cara rahasia dan orang jahat menasihati dengan cara melecehkan dan memaki-maki.”

Imam Syafi’i berkata, “Barangsiapa yang menasihati temannya dengan rahasia, maka ia telah menasihati dan menghiasinya. Dan barangsiapa yang menasihatinya dengan terang-terangan, maka ia telah mempermalukannya dan merusaknya.”

Lihatlah, menasihati seorang teman saja memiliki kaidah seindah itu. Wajar jika menasihati seorang pemimpin juga tidak kalah, harus sebaik-baiknya.

Dari Ibnu Hakam, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang ingin menasihati pemimpin, maka jangan melakukannya secara terang-terangan. Akan tetapi, nasihatilah dia di tempat yang sepi. Jika menerima nasihat, itu sangat baik. Dan bila tidak menerimanya, maka kamu telah menyampaikannya kewajiban nasihat kepadanya.” [HR Imam Ahmad]

Menasihati secara sembunyi-sembunyi merupakan sebuah adab yang baik. Syaikh bin Baaz berkata, “Menasihati para pemimpin dengan cara yang terang-terangan melalui mimbar-mimbar atau tempat-tempat umum, bukan (merupakan) cara atau manhaj salaf (kaedah yang dilakukan oleh generasi Islam yang lalu). Sebab, hal itu akan mengakibatkan kerusakan dan menjatuhkan martabat para pemimpin. Akan tetapi (cara) manhaj salaf (kaedah yang dilakukan oleh generasi Islam yang lalu) dalam menasihati pemipin yaitu dengan mendatanginya, mengirim surat atau menyuruh salah seorang ulama yang dikenal untuk menyampaikan nasihat tersebut.” Contohnya adalah seperti yang dituturkan oleh Imam Ibnu Hajar bahwa Usama telah menasihati Utsman bin Affan dengan cara yang sangat bijaksana dan beretika tanpa menimbulkan fitnah dan keresahan.

Menjatuhkan martabat seorang muslim bukanlah sebuah syariat Islam, apalagi martabat seorang pemimpin. Bila wibawa seorang pemimpin telah jatuh, maka proses kepemimpinannya menjadi cacat di mata rakyat. Bahkan tidak mungkin hingga akhirnya pemimpin tidak lagi didengarkan oleh rakyat. Hal ini akan menimbulkan kegoncangan dan keresahan dalam bernegara.

Bekal bagi orang yang menasihati pemimpin:

1. Ikhlas dalam memberi nasihat.
2. Menjauhi segala macam ambisi pribadi.
3. Mendahulukan sikap kejujuran dan kebenaran.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kebenaran kepada pemimpin yang zhalim.” [HR Abu Daud]
4. Berdoa kepada Allah Ta’ala dengan doa-doa yang mashur.
Dari Ibnu Abbas, beliau bersabda, “Jika kamu mendatangi penguasa yang kejam, maka berdoalah: Allah Maha Besar, Allah Maha Tinggi dari semua makhluk-Nya. Allah Maha tinggi dari semua yang saya takutkan dan khawatirkan. Saya berlindung kepada Allah yang tiada sesembahan yang haq selain-Nya. Dia-lah yang menahan langit yang tujuh sehingga tidak jatuh ke bumi dengan izin-Nya, (dari) kejahatan hamba-Mu dan para pengikutnya, bala tentaranya dan para pendukungnya, baik dari jin ataupun manusia. Ya Allah, jadilah Engkau pendampingku dari kejahatan mereka. Maha Tinggi Kekuasaan Allah dan Maha Agung serta Maha Berkah Nama-Nya, tiada yang berhaq disembah selian Engkau.” (dibaca tiga kali) [HR Ibnu Abu Syaibah]

[bersambung, insyallah (dibagi atas 4 bagian)]

Rujukan:
– Ushul Sunnah
– As Sunnah 02/VII/1424H/2004M

bagian 1
bagian 2
bagian 3
bagian 4

Entry filed under: Aqidah. Tags: .

Umat Islam Harus Berjalan dengan Ajaran Islam Ummat Islam dan Pemimpinnya (2/4)

4 Comments Add your own

  • 1. tedi  |  June 17, 2007 at 7:18 am

    subhanalloh..betapa mulianya islam…betapa indahnya hidup bersama islam.kita diajarkan untuk beretika dan bertatakrama..kita diajarkan untuk berlakusopana dan berlaku santun…jangankan terhadap pemimpin kita,terhadap teman yang berlaku salah saja kiata diwajibkan berlaku lembut dalam menasihati…apalh jadinya kehidupana ini bila satu sma lain saling mencaci,membenci dan bermusuhan…islam adlah agma rahmatana lilalamin..agama pembawa damai bagi seluruh umat manusia..tanpa memperdulikan perbedaan agama,suku,bahasa ataupun ras kulit…orang luar islam kan menghormati muslim bila orang islam berlaku santun terhadap non muslim,begitupun orang muslim kan berlaku sopan bila oarang non muslim berlaku baik….mari ci[takan perdamaian di dunia…hak dan kewajiban kita adalah saling menghormati dan menyayangi…perkara masuk neraka ataukah surga,masalah sesat ataukah lurus…kita hanya bisa berijtihad dan menasehati secara baik…perkara diterima atau tidak…itu adalah hak preogratif yang bersangkutan dan Tuhan kita…

    Reply
  • 2. tedi  |  June 17, 2007 at 7:32 am

    lets try to do goodness in any palce an anywhere we are…in any religion and any occapant we are..to do goodness is not only the fix rigt of moslem or christian only…to do goodness is not the obligation for hinduism follower or buddhist only..but we are as human being, we are as vicegerent of God,we are as the most perfect creation created by God Alloh Ta’aala…we are obliged and instructed to do goodness…begin from the very simplest and little thing around you..you see the stone on the street which it can danger other man and destroy the car,you try to take it away from the street…you see a man with very pity condition saying..iam hungry…-wether is it true or not he is being hungry or onlt pretend to be hungry-without suspecting him tobe lie or not..we give him something which can help him..although with only one simple smile…wow…its very beutiful life we have…we do goodness to person and people would certainly do goodness to us, we do polite to the land and land would respect us as human being…God really created this nature, this world and life in a very balance creation….when we try to make inbalnce thing, we are automatically destroyed….subhanalloh…

    Reply
  • […] [bersambung, insyallah]- Bagian 1 […]

    Reply
  • […] insyallah] – bagian 1 – bagian 2 – bagian 3 – bagian […]

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blog-ku Lainnya

Designed by Rini Aisyah

Designed by Rini Aisyah

Designed by Rini Aisyah

Statistik Blog

  • 133,865 hits

%d bloggers like this: