Mencela Agama

May 13, 2007 at 6:02 am 16 comments

Mencela Agama Islam dengan secara lengsung dan terang-terangan rasanya tak mungkin dilakukan oleh seorang muslim dan muslimah. Tapi, mencela dan mengolok-olok orang-orang yang beriman pada Allah, mungkin ini pernah dilakukan. Bukankah mencela orang yang berada di atas agama ini termasuk mencela agama ini dan mengolok-olok orang yang berada di atas agama ini termasuk mengolok-olok agama ini?

Contoh sederhananya yaitu, mengatakan kebanjiran pada lelaki muslim yang tidak isbal (memendekkan celananya tidak mencapai mata kaki). Menyebutkan poligami itu menyengsarakan wanita. Mengejek lelaki muslim yang berjenggot dengan sebutan, ‘kambing’. Atau wanita muslimah yang berusaha menghindari tabbaruj (berlebihan dalam berpakaian) dengan memakai pakaian berwarna gelap sebagai wanita kuno, tak pandai mengikuti mode. Meledek orang-orang yang rajin beribadah sebagai orang yang sok suci.

Bahkan Allah Ta’ala telah berfirman tentang salah satu perbuatan yang termasuk melecehkan orang-orang yang beriman :

“Sesungguhnya orang yang berdosa adalah mereka yang dahulunya (di dunia) menertawakan orang-orang beriman. Apabila orang beriman itu berlalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya.” [QS Al-Muthaffifin: 30]

Di zaman Rasululllah shalallahu ‘alaihi wasallam masih hidup, pernah terjadi peristiwa pengolok-olokan ini. Dari Ibnu Umar bin Khaththab, ia berkata bahwa seseorang berkata pada peperangan Tabuk, “Kita tidak melihat seperti qari ini (maksudnya adalah Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat) kecuali yang paling banyak makannya, acap kali berdusta serta paling penakut ketika berperang.” Auf bin Malik berkata padanya, “Engkau telah berdusta, akan tetapi engkau munafik! Akan aku kabarkan hal ini pada Rasulullah.” Kemudian Auf bin Malik mengabarkan hal ini kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan ternyata Al-Quran telah mendahuluinya dalam memberikan kabar, yaitu:

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab, ‘Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja’. Katakanlah, ‘Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” [QS. At-Taubah: 65]

Kemudian lelaki itu menemui Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, langsung berangkat menunggang untanya sambil berkata, “ya, Rasulullah, kami hanya bermain dan bersenda gurau dan bercengkrama seperti musafir menuntaskan perjalanan sambil bercengkrama dengan sahabatnya!”

Ibnu Umar melanjutkan lagi, ia berkata, “Seakan-akan masih terlihat olehku, dia berpegangan pada tali unta Rasulullah, sedangkan kerikil-kerikil tajam menusuk kakinya sambil berkata, ‘Sesungguhnya kami bermain dan bergurau’, sedangkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Apakah dengan Allah, ayat, dan Rasul-Nya kalian mengolok-olok,’ tidak menoleh kepadanya dan tidak menambah ucapan beliau.”

[HR Ibnu Jarir 910/1190 dengan sanad Hasan]

Kemudian keluar keputusan dari Allah terhadap perbuatan mereka:

“Tidak perlu kalian mengajukan uzur (maaf), kalian telah kufur setelah kalian beriman.” [QS At-Taubah: 65]

“Sungguh mereka telah mengucap kata-kata kufur dan telah kufur setelah Islam mereka.” [QS At-Taubah 66]

Di dalam syariat, mengolok-olok ini disebut ISTIHZA’, yaitu pelecehan dan penghinaan dalam bentuk olok-olokan dan kelakar. Jenis-jenis dari istihza’ adalah terhadap Allah, terhadap ayat-ayat-Nya, terhadap Rasul-Nya, dan terhadap ulama dan orang beriman. Bentuk dari istihza’ ini ada dua macam yaitu secara terang-terangan (istihza’ sharih) dan yang tidak terang-terangan (istihza’ ghoirush) seperti mengedip-ngedipkan mata.

Dengan dalil surat At-Taubah 65 dan 66 di atas, banyak ulama yang berpendapat bahwa istihza’ merupakan salah satu pembatal Islam. Allah telah melarang umat Islam untuk duduk bersama orang yang melakukan istihza’ dan diam karena dengan diamnya itu ia telah ridho maka ia telah sama dengan mereka dalam berbuat dosa.

Beberapa perbuatan yang termasuk istihza’, yaitu:
– membuat plesetan yang menghina agama (Yahudi sering melakukannya),
– mengejek,
– menyindir syiar agama dan orang yang mengamalkannya,
= menyindir Islam dan hukum-hukumnya,
– dalam bentuk perbuatan dan bahasa tubuh, dan
= gambar yang bermakna ejekan.

Penyebab terjadinya istihza’ adalah:
– memperturutkan hawa nafsu,
– kekosongan hati atas rasa cinta terhadap Allah,
– teman yang fasik,
– tidak memahami bahaya lisan,
– kebodohan terhadap ilmu Islam,
– lemahnya ahli iman dalam amar ma’ruf nahi mungkar,
– pengaruh media masa yang sering menjelek-jelekkan Islam, dan
– usaha orang kafir dalam merusak citra Islam.

Setelah mengetahui bahaya dari istihza’ ini, sudah sepatutnya kita menjauhinya. Sama-sama menjaga lisan dan perbuatan yang diiringi terus menimba ilmu agama.

[Maraji’ = Majalah As-Sunnah edisi 5/VIII/1425H/2004M]

Entry filed under: Aqidah. Tags: .

At-Taubah 31 QS Nuh 23

16 Comments Add your own

  • 1. Rizma Adlia  |  May 13, 2007 at 6:10 am

    Hmmm,, gitu ya,, bener juga tuh,,

    tapi, nanya ya mbak/mas??

    kalo dibalik,

    mencela orang mencoba berpikir dan mencerna agamanya dengan label label sesat atau pokoknya salah gimana??

    menganggap orang yang berpikiran kritis sebagai orang yang tidak berakhlak, aneh, bahkan halal darahnya??

    mengatakan orang yang berusaha melindungi dirinya dan anak anaknya dari tindak poligami yang diselewengkan sebagai tidak menerima kodratnya dan melangkahi aturan??

    Itu mengolok olok/mencela sesama muslim juga ga,,?? (jangan jangan dianggap sebagai penegakan kebenaran)

    terima kasih,,

    Reply
  • 2. bungazahrah  |  May 14, 2007 at 4:30 am

    @rizma…
    mungkin maksudnya menasehati.
    berbeda menasehati dengan mencela.
    biasanya orang yang salah kalau dicela (terlebih dulu) lalu diberi nasehat, nasehat kita ga akan didengar….
    Malah bertambah-tambah kebenciannya pada kita.

    berdoa pada ALlah agar orang tersebut segera menyadari kesalahannya dan mendapat hidayah-Nya…

    yang dimaksud pada artikel di atas adalah, orang (biasa kurang ilmu) mencela orang yang beriman….

    Tentang poligami, jika merasa tak mampu menjalaninya, tak ada yang salah asalkan tidak menghina hukum poligami itu sendiri dan orang-orang yang merasa mampu menjalankannya. Toh, setiap kita berbeda tingkat keimanannya.

    wallahu’alam

    Reply
  • […] itu,, Ma liat beberapa komen Ma dan dari temen Ma di rumah sendiri yang agak mirip itu,, pertamanya Ma mikir,, kok agak […]

    Reply
  • 4. Zorion Annas  |  June 11, 2007 at 10:23 am

    Poligami atas nama agama, membunuh juga atas nama agama. Terorisme atas nama agama. Kenapa menjadi begini?

    Waktu jaman Majapahit, orang Jawa (Gajah Mada, dll) membuat nusantara
    makmur dan jaya. Orang jawa berkebudayaan tinggi, kreatif dan toleran.
    Setelah Islam masuk di Jawa, negara kita hancur korban dari penajahan
    Belanda, Jepang, dsb. Korban dari korupsi, kekerasan/teror, malapetaka. Dan korban dari imperialisme Arab (Indonesia menjadi pemasok turis calon haji yang terbesar di dunia). Orang-orang Arab ini memang hebat telah berhasil menemukan cara untuk memasukkan devisa.

    Bagaimana caranya supaya orang Jawa kembali bisa memakmurkan negara kita yang tercinta ini?

    Reply
  • 5. Saleh Aziz  |  June 11, 2007 at 10:24 am

    Islam tidak cocok untuk wanita karena Islam menurunkan derajat wanita.

    Reply
  • 6. bungazahrah  |  June 13, 2007 at 11:33 pm

    @ Saleh Aziz
    Menurunkan derajat? Apakah artinya bebas dalam menggoda lelaki, suami orang? Dan kebebasan dalam hal digoda oleh lelaki, suami orang? Coba deh pelajari lagi ajaran Islam…

    @ Zorion Annas
    Dari penuturannya, sepertinya Anda ini bukan seorang muslim (Islam). Kudoakan agar Allah memberikan hidayah-Nya pada Anda hingga Anda merasakan manisnya iman dan kerinduan yang besar tuk datang ke arab Saudi (naik haji).

    Tentang suku Jawa. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda bahwa tentang urusan dunia kita, kitalah yang lebih tahu. Tentang Suku Jawa. Aku sendiri bukan bersuku Jawa dan dibesarkan bukan di lingkungan Jawa. Jadi, bisa dikatakan ga ngerti tentang masalah yang Anda ungkap. Tapi, lebih baik hilangkan dulu perasaan superior itu. Kalau ingin berhasil, cobalah melihat dan belajar dari yang sudah berhasil. Ga perlu jauh-jauh, lihat ke negara (suku) tetangga, yaitu Malaysia (melayu) dan Brunei…

    Moga manfaat ^_^

    Reply
  • 7. tedi  |  June 17, 2007 at 8:41 am

    subhanalloh… ternyata memang benar apa yang dikatakan oleh sebuah atsar atau hadist-entahlah tedi kurang begitu tau..tapi jangan dulu didzoifkan ya…he..he-…bahwa perbedaan pendapat umat islam…adalah rohmat…kita memang diciptakan untuk berbeda..beda kepala pasti beda opini, berlainan otak..tentu berlainan pendapat..dan eloknya, perbedaan itu bisa menjadikan kita hidup dinamis,kreatif dan pemikiran kita berkembang…tedi melihat opini kak bunga zahroh amat mengesankan,pendapat kak saleh aziz begitu kritis,dan pemikiran kak zorion anas begitu tajam….semoga perbedaan pendapat kaka2 bisa menjadikan kita lebih dinamis untuk membangun dan memajukan agama islam kita…Konon Sewaktu Imam Hanafi berkunjung ke Imam Syafei, beliau didaulat menjadi Imam sholat shubuh…. dan takjubnya, ketika sehabis ruku rakaat kedua, Imam Hanafi yang tidak biasa berqunut mendadak qunut karena teramat menghormat pendapat Imam Syafei yang menganjurkan Qunut…Subhanalloh beliau berdua ini walaupun berbeda faham dan bertolak belakang pendapat, tapi akhlak keduanya begitu mempesona…keduanya tidak bertikai pendapat serta merasa masing2 opininya benar…tapi perasan sayang dan cinta telah terlebih dahulu mempersatukan persahabatan keduanya…beliau saling mendukung dan bekerjasama dalam mengembangkan ajaran Islam dengan corak dan gaya khas masing-masing tanpa saling merendahkan style berdakwah yang dijalankan..Beliau-beliau teramat memahami betul bahwa apabila seseorang berijtihad, dan ijtihadnya betul.. Alloh memberinya dua pahala..dan kalaupun ijtihad(pendapatnya)-nya salah maka tetap diberi pahala satu…bahkan Imam Syafei berkata..”Ambillah ijtihadku selama menurut kailan bersesuaian dengan keterangan Alloh dan Rosul-Nya..sesungguhnya ijtihadku ini benar,tapi mengandung kesalahan”..Wallohu a’lam…semoga pendapat saya ini bis dijadikan bahan kajian dan analisis serta kritikan kaka2 yang lainnya…tedi senang dikritik,karena akan menjadi koreksi dan bahan renungan pribadi..bagi teman2 dan kaka2 lainnya..ayo kembangkan pemikiran dan pendapat kita seluas-luasnya.. agar khazanah kebudayaan dan kejayaan agama kita maju dan bisa mendamaikan pemeluk agama lain..lindungilah perbedaan pendapat and pemikiran kita dengan bingkai kasih sayang sesama muslim..kita adalah sebuah ornamen yang satu sama lainnya saling membantu…islam membutuhkan tipe2 muslim yang keras dalam mempertahankan dan membela syariat islam,Islam juga membutuhkan muslim2 yang berfikiran tajam dan analisis yang cermat….bravo dan salut tedi buat ka bunga zahroh,kak aziz,kak zorion anas dan ka rizma…

    Reply
  • 8. Zorian Annas  |  June 18, 2007 at 6:07 pm

    Dari pada Malaysia dan Brunai, jauh lebih baik Singapura yang dipakai contoh keberhasilan. Singapura dimana emansipasi wanita sangat tinggi. Singapura adalah negara yang paling jujur (bersih dari korup) no. 3 di dunia.

    Saya bukan orang Jawa. Tapi karena di nusantara, kekuatan politik berada di Jawa dan sekitar 60an % penduduk nusantara ada di Jawa, maka saya mengambil contoh kebudayaan Jawa. Kepercayaan-kepercayaan lain di Nusantara juga tinggi dan luhur, seperti Keharingan, Sunda …, dsb. Bagaimanapun praktik kepercayaannya, hasilnya dalam kehidupan sehari-hari adalah toleransi dan damai terhadap sesamanya apapun suku dan agamanya. Sikap inilah yang terpuji.

    Ya, peradaban Jawa jauh lebih tinggi dan lebih luhur dari pada Arab. Buktinya agama Kejawen mengajarkan kedamaian antara sesama manusia sedangkan ajaran Islam menanamkan permusuhan. Anda baru lahir sudah mempunyai musuh karena menurut Al Qur’an, orang yang tidak beragama Islam adalah orang kafir. Anda diajar oleh Al Qur’an untuk menganggap jelek sesama manusia yang tidak muslim. Benar kan? Memukul istri dan poligami juga dihalalkan oleh Al Qur’an. Benar kan? Jadi sejak lahir, anda juga diajar kekerasan dan diajarkan melecehkan wanita oleh Al Qur’an. Doktrin ini tidak bisa diterima oleh kalangan banyak. Makanya Islam bukan ajaran universal. Al Qur’an dulu ditulis oleh Nabi Muhamad di tengah-tengah masyarakat tribal. Masyarakat tribal di Arab waktu itu kerjanya hanya perang, saling bunuh. Kerena yang perang dan terbunuh hanya laki-laki, maka waktu itu kebanyakan wanita yang tidak lagi mempunyai suami dan kebanyakan wanita bujangan. Laki-laki termasuk Nabi Muhamad mengunakan kesempatan itu untuk menyelingkuhi wanita-wanita tersebut. Kemudian Nabi Muhamad menyantumkan di Al Qur’an bahwa poligami dihalalkan untuk meligitimasikan perbuatan yang terkecam itu.

    Masalahnya, orang-orang muslim sekarang mengambil contoh dari Nabi Mohamad dengan berteduh di bawah payung Al Qur’an walaupun mereka mengetahui bahwa poligami melecehkan wanita. Pikirian mereka sudah tidak kritis lagi. Kalau sudah dihalalkan oleh Al Qur’an maka tidak usah lagi ditinjau kembali bagaimanapun tercelanya perbuatan tsb.

    Karena agama harus dicantumkan di KTP, maka muslim menjadi mayoritas di Indonesia. Tapi, kenapa Indonesia tidak menjadi negara Islam? Karena agama-agama leluhur mereka tidak diakui oleh pemerintah, maka orang Indonesia diharuskan berdusta dan menerima agama di KTP adalah Islam. Sejak jamannya Suharto, orang jawa atau suku lainnya diharuskan untuk mencatat perkawinannya secara Islam. Karena kalau tidak demikian, maka perkawinannya dianggap tidak sah. Dewasa ini, orang-orang pada mulai berani menunjukkan agama yang sebenarnya. Makanya, banyak yang mempunyai nama yang bernuansa muslim, tapi mereka memeluk agama Budha, Kristen, Katolik atau Hindu. Jadi mereka tidak harus berdusta lagi. Pejabat-pejabat muslim tidak setuju menghapus agama di KTP karena mereka takut muslim menjadi minoritas di Indonesia.

    Reply
  • 9. bungazahrah  |  June 19, 2007 at 5:23 am

    @tedi, benar. Selama perbedaan tidak menyimpang dari Al Quran dan As Sunnah, tak boleh kita saling menghujat. Sesungguhnya ikhtilaf itu (perbedaan) semuanya mendapat pahala dari Allah. Yang benar mendapat dua pahala dan yang salah mendapat satu pahala. Itu semua karena hasil ijtihadnya terhadap sebuah syariat. Sedangkan kita, orang awam tidak boleh membawa perbedaan itu menjadi permusuhan. Kita harus saling menghormati.

    Dan apakah Zorian Annas mengetahui syariat Islam secara benar? Sesungguhnya ajaran Islam yang indah ini sudah banyak ternoda. Kewajiban kita masing-masing tuk mengutarakan bagaimana ajaran Islam itu sendiri….

    Kalau dipaparkan di sini terlalu panjang. Toh, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam saja mengajarkan agama ini ga sehari dua hari. Banyak sekali ajaran-ajaran indah dari Islam. Bolehlah Zorian Annas membaca artikel-artikel lainnya di sini.

    Reply
  • 10. Rizma  |  June 19, 2007 at 5:59 am

    Saleh Aziz

    Islam tidak cocok untuk wanita karena Islam menurunkan derajat wanita.

    Ga setuju!

    Islam menghargai wanita,, dan menjaga kehormatan wanita,, tapi kalo wanitaitu sendiri memutuskan bahwa hal yang merendahkan dirinya sendiri sebagai kebebasan, mau gimana lagi,,

    @ Zorian Annas

    sedangkan ajaran Islam menanamkan permusuhan

    Islam itu agama untuk semua makhlukNya,, kalaupun ada tingkah orang islam yang ga berkenan pada anda bukan berarti islamnya yang perlu disalahkan,, itu scoop yang terlalu luas untuk digeneralisir,,

    Juga masalah ayat ayat yang ada dalam Qur’an, dalam menelaah itu butuh keahlian dan kompetensi,, ga gamblang,,

    Reply
  • 11. Wisdom  |  September 4, 2007 at 3:51 am

    Siapa penyebar agama Nasrani di Indonesia dan seluruh dunia??? Inggris, Portugis, Belanda dkk. Apakah mereka menyebarkannya dengan KASIH..??? Manusiawikah???….aaaah yg bener.
    Apakah itu hanya terjadi zaman dulu saja??? nggak juga tuh…Irak, Afganistan dll, rencana selanjutnya Iran.
    Adakah ajaran atau sekolah yg tegas2 menghina seorang pemimpin agama terbesar Islam dgn memasang plakat disekolahnya yg isinya menghina??? Ada, di sekolah2 misionaris barat sana, ada yg buat kartun2 joroknya lagi.
    Umat Islam pernah menghina Yesus??? Ndak pernah lah ya
    Binatang apakah yg ditemukan dari dulu bahwa jantung manusia ada yg menggantikannya??? Ada yaitu BABOON…babi telat…jantung elektronik juga bisa dan tahan lama lagi.
    Apakah Islam yang bisa menjelaskan secara rinci tentang kisah Yesus (Isa Al Masih) dan juga dihormati (Umat Islam) dan diakui oleh juga nasrani??? BETUUUL….

    Kenapa agama2 terbesar asal-muasalnya terlahir di Timur Tengah??? Karena dulu banyaknya org2 biadab dan tak beradab banyak disana jadi banyak firmanpun turun disana termasuk nasrani to..!!!

    Katanya Islam terlahir waktu Jaman Tribal, loh katanya sudah terlahir Si Juru Selamat padahal jauh sebelum Nabi Muhammad yang dikejar-kejar dan akhirnya terbunuh dan yg bunuh ongkang2 kaki itu JAMAN APA YA???

    Apakah hanya wanita Islam (salah satu contoh yg katanya budaya Arab) yg cuma pake KERUDUNG atau JILBAB..??? loh Bunda Maria dan Suster2 katolik zaman sekarang kayaknya pake kerudung deh..!!!🙂

    Kita tahu siapa atau kelompok atau negara mana yg dari dulu hingga sekarang sering memaksakan kepercayaannya dan tidak suka dengan kejayaan dan kemajuan Islam.

    Al Qur’an surat Al Baqoroh (2) ayat 191 tercantum kalimat “Wal fitnatu asyaddu minal qotli….” yang artinya “DAN FITNAH ITU LEBIH SANGAT (DOSANYA) DARIPADA PEMBUNUHAN..”.

    Inilah bahayanya FITNAH….. FITNAH bisa mematikan karakter seeorang, keluarga hingga banyak orang. Maka berhati-hatilah…

    Reply
  • 12. bungazahrah  |  September 8, 2007 at 8:37 am

    Tujuan awal saya menampilkan artikel ini adalah agar sesama kita tidak saling mencela, terutama mencela agama. Namun herannya, ada beberapa komentar yang malah melakukan celaan itu. Beberapa komentar yang bernada cela dan berisi kalimat konfrontatif, terpaksa saya hapus.

    Allah telah berfirman:
    “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” [QS. Al Maidah : 2]

    Untuk kedepannya, saya harap tidak akan ada lagi komentar yang bernada ‘menyerang’.

    Reply
  • 13. Solihin  |  January 7, 2008 at 6:51 pm

    Assalaamu’alaikum.
    Saya sangat setuju dengan poligami.
    Saya mempunyai seorang teman yang sudah mempunyai seorang istri + 2 anak. Dia mau tidur seranjang dengan gadis yang berumur 9 tahun. Gadis ini adalah anak dari seorang teman akrabnya. Teman saya ini mau mencontohi Nabi Muhammad SAW.
    Teman saya ini mengetahui bahwa gadis tsb bukan milik ayahnya, melainkan milik Alloh.
    Pertanyaan saya: Berhakkah si Ayah menolak permintaan teman saya ini? Apakah si ayah akan masuk neraka karena menolak ajaran Rasulullah?
    Terima kasih atas pertolongannya untuk menjawab pertanyaan ini.

    Rini berkata:
    Wa’alaykumsalam warrahmatullah.
    Yang menjadi pertanyaan saya adalah, begitu banyaknya sunnah Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam tapi kenapa hal pernikahan yang tak lazim masa kini yang daimbil ? Bahkan perilaku ini tak pernah diucapkan oleh beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk diikuti oleh para sahabatnya yang lain. Banyak sunnah beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam yang malah lebih dianjurkan oleh beliau untuk dikerjakan. Atau antum sudah melakukan semua perilaku sunnah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam hingga sampai hal ini.

    Tentang masuk neraka atau tidak, wallahu’alam. Itu semua kuasa Allah. Yang jelas, orang tua berhak memilihkan suami yang terbaik buat anaknya. Orang tua berhak menolak pinangan dan seorang anak perempuan berhak menolak pinangan jika si anak perempuan itu tak berkenan. Wallahu’alam.

    Reply
  • 14. Solihin  |  January 11, 2008 at 6:52 pm

    Assalaamu’alaikum.
    @ Rini,
    Terima kasih atas tanggapannya.
    Masalahnya: Si ayah dari gadis ini merasa ragu-ragu untuk menyerahkan anaknya yang berumur 9 tahun untuk tidur seranjang dengan teman saya yang berumur 50 th.
    Menurut teman saya ini, kalau si ayah ini mau menyerahkan anaknya, maka dia akan mendapatkan pahala nanti di akhirat dan akan pasti masuk sorga. Dan teman saya pun mau masuk sorga dengan mencontohi kehidupan Rasulullah.
    Menurut teman saya ini, gadis tsb bukan milik ayahnya, tapi milik Alloh. Jadi hanya Alloh yang berhak terhadap gadis tsb, tapi bukan si ayah. Semuanya adalah ciptaan Alloh. Kita umat muslim harus mengamalkan ajaran Alloh serta mencontohi Rasulullah SAW supaya kita diberkahi rezeki di dunia ini.
    Bagaimana caranya untuk menyadarkan si ayah ini? Apakah si ayah ini termasuk orang kafir?
    Terima kasih sebelumnya atas penjelasannya.
    Wassalam

    Tanggapan Rini :
    Wa’alaykumsalam warrahmatullah. Salah satu tanggung jawab terbesar bagi orang tua adalah memilihkan suami yang terbaik buat anaknya. Biarkanlah si bapak diberi kelapangan dan kepercayaan dalam memilihkan suami yang baik (menurutnya) bagi anaknya, selama itu memenuhi prinsip-prinsip dalam Islam. Jika dia tidak / belum mengizinkan si anak tuk menikah, yah ikhlaskan saja. Sering kita dengar kalimat, “belum jodoh…”

    Kafir atau tidak? Tidak bisa toh hanya dilihat dari sisi ini, terlalu kerdil. Setahu ana, pengkafiran hanya dapat diberikan oleh orang-orang yang berhak memutuskannya, bukan orang awwam seperti kita.

    Maaf kalo ada salah kata.

    Reply
  • 15. Solihin  |  January 15, 2008 at 2:33 am

    Assalaamu’alaikum.
    @ Rini,
    Terima kasih banyak atas tanggapannya.
    Nampaknya, teman saya ini sudah tidak sabar lagi untuk menjalani perintah Allah dan mencontohi Rasulullah SAW. Dia (50 th) mau seranjang sama gadis yang berumur 9 th tsb.
    Katanya, si ayah ini dasar Islam KTP, kafir, sama sekali buta dengan ajaran Allah S.W.T, perlu penyuluhan dan harus lebih taat sholat.
    Katanya, anaknya tsb bukan milik si ayah, melainkan milik Allah S.W.T. Katanya, si ayah tidak berhak menahan sesuatu yang bukan miliknya. Semua yang ada di atas dunia ini adalah milik Allah. Pada pengadilan terakhir di akhirat nanti, si ayah akan di hukum neraka karena ragu-ragu menyerahkan anaknya kepada teman saya tsb yang mengikuti sunnah.
    Memang tujuan satu-satunya bagi kita semua sebagai kaum muslim adalah SORGA. Untunglah Allah dan Rasulullah memberi umatnya berbagai cara untuk mencapai sorga. Menurut teman saya ini: Allah memberikan jalan untuk mencapai sorga hanya kepada kaum muslim. Bukan kepada orang kafir.
    Wassalam

    Rini menjawab :
    Wa’alaykumsalam warrahmatullah.
    Tetap, memilihkan suami buat anaknya ada hak para orang tua terlebih bila orang tua merasa bahwa anaknya itu belum siap tuk menikah. Bahkan putri Rasulullah shalallhu ‘alaihi wa sallam juga menikah di atas usia 9 tahun. Jika si ayah tidak setuju, cari saja wanita lain. Jangan sampai malah merusak hubungan persaudaraan di dalam Islam. Bahkan anak itu bukanlah tanggung jawab si teman itu, apalagi kepunyaannya. Si anak tetap menjadi tanggung jawab orang tua, tanggung jawab di hadapan Allah.

    Juga, harus hati-hati mengatakan kafir kepada seseorang. Jika ucapannya itu tidak benar, di sisi Allah, orang yang disebut kafir itu tidaklah kafir, maka ucapan itu dapat kembali kepada orang yang menyebutkannya. Juga tidak boleh mengatakan bahwa Allah akan memasukkan seseorang ke neraka atau surga. Semua itu hak Allah, tak ada manusia yang tau akan keputusan-Nya. Cobalah belajar tentang Islam lebih dalam lagi, jangan setengah-setengah.

    Untuk selanjutnya, jika antum masih mengungkapkan masalah ini, ana akan menghapus komentar antum.

    Afwan terhadap semua kata2 jika ada yang tak berkenan.

    Reply
  • 16. Anwar N.  |  April 4, 2009 at 8:49 am

    BERAPAKAH TINGGI BADAN NABI MUHAMMAD SAW ?

    Buat teman-teman yang ahli matematika. Saya perlu bantuan dari kalian.

    Saya mau mengetahui tinggi badan Rossul SAW waktu berumur 54 tahun (waktu beliau menikahi Aysiah yang berumur 9 tahun). Rossul SAW lahir sekitar 1500 tahun yang lalu.

    Kita mengetahui bahwa semakin tahun, tubuh manusia semakin tinggi. Seorang anak yang menginjak umur dewasa selalu lebih tinggi tubuhnya dari ayahnya sekitar 5 sampai 10 cm. Sedangkan, perbadaan umur antara anak dan ayah adalah sekitar 25 – 30 tahun.

    Ambillah sebuah patokan yang minimal bahwa seorang anak selalu lebih tinggi dari ayahnya paling tidak 2 cm. Sedangkan perbedaan umur antara anak dan ayah, kita ambil patokan 30 tahun.

    Saat ini: Tinggi badan orang dewasa di daerah Timur Tengah (Arab), kita ambil patokan 180 cm.

    Kalau dilihat dari patokan-patokan di atas, berarti tubuh manusia bertambah tinggi minimal 2 cm setiap 30 tahun.

    Sedangkan kita mengetahui bahwa Rossul SAW lahir 1500 tahun yang lalu.

    Selisih ukuran badan Rossul SAW adalah (1500 dibagi 30 ), kemudian hasilnya dikalikan 2 cm. Hasilnya adalah 100 cm (lebih pendek dari sekarang).

    Kalau rata-rata orang dewasa di Timur Tengah mempunyai tubuh setinggi 180 cm, maka tinggi tubuh Rossul SAW pada saat itu adalah (180 cm dikurangi 100 cm) = 80 cm.

    Jadi Rossul SAW mempunyai tubuh setinggi 80 cm.

    Berarti kita yakin bahwa, pada saat itu (1500 tahun yang lalu), Rossul Nabi Muhammad SAW berukuran badan sangat pendek, yaitu sekitar 80 cm.

    Bungazahrah:
    pemikiran ini diawali dengan statement anda yang ini:

    “Kita mengetahui bahwa semakin tahun, tubuh manusia semakin tinggi.”

    Saya pikir, pernyataan ini salah. Apakah Anda tau berapa tingginya mummi2 raja fir’aun yang dulu ? Apakah anda tau berapa tingginya nabi2 yang dulu? Nabi Adam? Anaknya, Qabil ? Jika anda tau, anda pastinya akan mengubah pernyataan tadi.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blog-ku Lainnya

Designed by Rini Aisyah

Designed by Rini Aisyah

Designed by Rini Aisyah

Statistik Blog

  • 133,865 hits

%d bloggers like this: